Laman

Sabtu, 14 Mei 2011

diare pada bayi dan balita


Paper Responsi ke-1                                           Tanggal Mulai    : 28 Maret 2011
MK Patofisiologi  Gizi                                          Tanggal Selesai : 28 Maret  2011
DIARE PADA BAYI DAN BALITA
Oleh :
Kelompok 15
                                        Cut Farah Aldira                I14090038
                                        Avliya Quratul Marjan       I14090039
                                        Ali Mahdi Bukhori              I14090041
                                        Tania Primarta                   I14090043
                                                                                  

Asisten Praktikum:
Guntari Prasetya . SGz
Koordinator Mata Kuliah:
dr. Yekti Hartati Effendi

                                                                         






! LOGO IPB hitam.gif










DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT
FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011
PENDAHULUAN

2.1 Latar Belakang, Definisi, dan Epidemiologi
2.1.a. Latar Belakang
Masalah kesehatan anak merupakan salah satu masalah utama dalam bidang kesehatan yang saat ini terjadi di negara Indonesia (Hidayat 2008) dan penyakit diare merupakan salah satu penyakit endemis dan masih sering menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) di masyarakat oleh karena seringnya terjadi peningkatan kasus-kasus pada saat atau musim-musim tertentu yaitu pada musim kemarau dan pada puncak musim hujan (Sunoto 1990).
Derajat kesehatan anak mencerminkan derajat kesehatan bangsa, sebab anak sebagai generasi penerus bangsa memiliki kemampuan yang dapat dikembangkan dalam meneruskan pembangunan bangsa. Angka kematian dan kesakitan bayi dan balita merupakan indikator yang menunjukkan tingkat kesehatan negara Indonesia. Angka kematian bayi dan balita sebagian besar disebabkan oleh diare. Dimana telah diketahui bahwa diare merupakan penyebab kematian utama bayi dan balita Indonesia setelah pneumonia dan radang paru-paru (Depkes RI 2003).
Diare ditandai dengan sering evakuasi tinja cair, biasanya melebihi 300 ml disertai dengan hilangnya cairan yang berlebihan dan elektrolit terutama natrium dan kalium. Hal ini terjadi ketika ada transit terlalu cepat isi usus melalui usus kecil, penurunan enzim pencernaan makanan, penurunan penyerapan cairan dan nutrisi, meningkatkan sekresi cairan pada saluran pencernaan, atau kerugian eksudatif (Mahan and Stump 2008). Diare adalah gejala dari berbagai kondisi medis dan perawatan. Diare dapat terjadi tiba-tiba pada orang sehat sebagai akibat infeksi (keracunan makanan) atau sebagai efek samping obat. Diare juga dapat terjadi sebagai akibat dari gangguan pada saluran pencernaan, seperti sindrom iritasi usus atau kolitis (Whitney 2007).
2.1.b. Definisi
            Menurut Hippocrates diare adalah buang air besar dengan frekuensi yang tidak normal (meningkat) dan konsistensi tinja yang lebih lembek atau cair. Diare akut adalah buang air besar dengan frekuensi yang meningkat dan konsistensi tinja yang lebih lembek atau cair dan bersifat mendadak datangnya, serta berlangsung dalam waktu kurang dari dua minggu (Nelson dalam Suharyono 1986).
Definisi diare yang diberikan oleh Depkes RI (2003) adalah penyakit yang ditandai dengan perubahan bentuk dan konsistensi feses melembek sampai mencair dan bertambahnya frekuensi buang air besar (BAB) lebih banyak dari biasanya (lazimnya 3 kali atau lebih dalam sehari). Menurut WHO 1980, diare juga merupakan keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih dari 3 kali pada anak dengan konsistensi feses encer dapat berwarna hijau atau dapat pula bercampur lendir dan darah atau lendir saja.
Selain definisi diatas, definisi lain tentang diare menurut Suharyono 1986 adalah penyakit dimana penderita mengalami buang air besar dengan frekuensi yang tidak normal (meningkat) dan konsistensi tinja lebih cair dan lembek. Kondisi ini dapat merupakan gejala dari luka, penyakit, alergi, penyakit dari makanan dan biasanya disertai sakit perut dan sering kali muntah dan merasa mual. Dari beberapa definisi tersebut dapat dilihat bahwa diare ditandai dengan frekuensi buang air besar yang meningkat dan perubahan bentuk feses yang menjadi lembek sampai mencair bahkan sampai berwarna hijau atau becampur lender dan darah atau lendir saja.
2.1.c. Epidemiologi
Sampai saat ini penyakit diare atau juga sering disebut gastroenteritis, masih merupakan salah satu masalah kesehatan utama dari masyarakat di Indonesia. Dari daftar urutan penyebab kunjungan puskesmas atau balai pengobatan, hampir selalu termasuk dalam kelompok 3 penyebab utama bagi masyarakat yang berkunjung ke puskesmas (Depkes RI 2003). Diare merupakan penyebab utama kematian bayi dan balita. Hasil Surkesnas 2001, didapatkan data bahwa proporsi kematian bayi 9.4% dan kematian balita 13.2% (Irwanto dkk 2002).
Diare tersebar diseluruh dunia bahkan di negara maju walaupun sudah terjadi perbaikan kesehatan dan ekonomi masyarakat tetapi insiden diare infeksi masih tetap tinggi dan masih menjadi maslah kesehatan (Siregar 2004). Di negara berkembang, diare infeksi penyebab kematian sekitar 3 juta penduduk setiap tahun. Di Afrika anak-anak terserang diare infeksi 7 kali setiap tahunnya di banding negara berkembang lainnya yang mengalami serangan diare 3 kali setiap tahun (Bastiansyah 2005).
Di Indonesia menurut badan pusat statistik Indonesia (BPS) angka kejadian diare nasional tahun 2006 adalah sebesar 423 per 1000 penduduk semua umur. Di awal tahun 2006, tercatat 2.159 orang di Jakarta yang dirawat di rumah sakit akibat menderita diare. Melihat data tersebut dan kenyataan bahwa masih banyak kasus diare yang tidak terlaporkan, departemen kesehatan menganggap diare merupakan isu prioritas kesehatan di tingkat lokal dan nasional karena punya dampak besar pada kesehatan mayarakat (Depkes RI 2008).
Sebagian dari penderita (1-2%) adalah bayi dan balita serta akan jatuh kedalam dehidrasi dan kalau tidak segera ditolong 50-60% diantaranya dapat meninggal. Hal inilah yang menyebabkan sejumlah 350.000 – 500.000 anak dibawah lima tahun (bayi dan balita) meninggal setiap tahunnya. Dari pencatatan dan pelaporan yang ada, baru sekitar 1,5 – 2 juta penderita penyakit diare yang berobat rawat jalan ke sarana kesehatan pemerintah. Jumlah ini adalah sekitar 10% dari jumlah penderita yang datang berobat untuk seluruh penyakit, sedangkan jika ditinjau dari hasil survei rumah tangga di antara 8 penyakit utama, ternyata penyakit diare mempunyai presentase berobat yang sangat tinggi, yaitu 72% dibandingkan untuk rata-rata penderita seluruh penyakit yang memperoleh pengobatan (Depkes 2008)



















2.2 Tujuan Penulisan
            Penulisan makalah tentang diare pada bayi dan balita ini bertujuan untuk :
1.    Mengetahui definisi dan klasifikasi diare pada bayi dan balita
2.    Mengetahui hal-hal yang mengenai etiologi diare pada bayi dan balita
3.    Mengetahui pengaruh diare terhadap patofisiologi terjadinya penyakit dan pengaruhnya terhadap sistem organ.
4.    Mengetahui prinsip penatalaksanaan diare bagi kehidupan.









































PEMBAHASAN

3.1 Tinjauan Umum, Etiologi, Tanda dan gejala serta Ilustrasi Foto
Diare
Di Indonesia diare merupakan penyebab terbesar kematian bagi bayi dan balita. Maka dari itu diare pada anak merupakan topik penting yang patut untuk dibahas. Diare dapat diartikan sebagai buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair atau setengah cair, kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya yaitu lebih dari 200 gram atau 200 ml per 24 jam. Definisi lain yang memakai kriteria frekuensi yaitu buang air besar encer lebih dari tiga kali dalam sehari dan dalam buang air besar encer tersebut dapat disertai lendir dan darah.
            Menurut Ellis dan Mitchell (1973) dalam Wahyuni (2006) diare pada bayi dan balita secara luas berdasarkan lamanya diare yakni
1.    Diare akut atau diare karena infeksi usus yang bersifat mendadak. Diare karena infeksi usus dapat terjadi pada setiap umur dan bila menyerang bayi umumnya disebut gastroentiritis infatil. Diare diberi batasan sebagai meningkatnya kekerapan, bertambah cairan, atau bertambah banyaknya tinja yang dikeluarkan, akan tetapi hal itu sangat relatif terhadap kebiasaan yang ada pada penderita dan berlangsung tidak lebih dari satu minggu.
2.    Diare kronik adalah diare yang berlangsung antara satu sampai dua minggu maka dikatakan diare yang berkepanjangan (Soegijanto 2002). Diare ini biasanya bersifat menahun, diantaranya diare akut dan kronik yang disebut diare sub akut.
            Berdasarkan ada atau tidaknya infeksi, diare diklasifikasikan menjadi diare infeksi spesifik dan diare infeksi non spesifik. Berdasarkan organ yang terkena infeksi, diare dibagi menjadi diare infeksi enternal dan diare infeksi parenteral. Diare infeksi enternal adalah diare karena infeksi usus yang disebabkan oleh bakteri, virus, ataupun parasit. Sedangkan diare infeksi parenteral merupakan diare yang terjadi di luar usus, seperti pada saluran pernafasan, saluran urin, ototis media dan lainnya (Short 1961 dalam Suharyono 1986).
3.1.a. Etiologi
            Penyakit diare dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu diare akut dan diare kronik. Penyakit diare akut atau gastroenteritis akut merupakan salah satu penyakit penting di Indonesia yang masih merupakan sebab utama kesakitan dan kematian bayi dan balita. Diare akut adalah diare yang disebabkan oleh infeksi usus yang bersifat mendadak yang dapat terjadi pada setiap umur dan bila menyerang bayi umumnya disebut gastroenteritis infantil. Salah satu penyebab diare akut pada bayi dan anak adalah enteropati karena sensitif terhadap protein susu sapi atau Cow’s milk protein sensitive enterophaty (CMPSE) atau yang lebih dikenal dengan alergi terhadap susu sapi atau Cow’s milk alergy (Smith 1978 dalam Suharyono 1986). Sedangkan diare kronik adalah kelanjutan dari diare akut dan bersifat menahun.
                Secara klinis penyebab diare dapat dikelompokkan dalam golongan enam besar, tetapi yang sering ditemukan di lapangan adalah diare yang disebabkan infeksi dan keracunan. Penyebab diare secara lengkap adalah infeksi yang dapat disebabkan oleh bakteri, misal: Shigella, Salmonela, E. Coli, golongan vibrio, bacillus cereus, Clostridium perfringens, Staphyiccoccus aureus, Campylobacter dan aeromonas. Bakteri yang menyebabkan gastroenteritis adalah Escherichia coli yang menyebabkan diare yang berdarah dan berinvasi ke usus besar, Salmonella merupakan bakteri yang masuk ke dalam tubuh manusia melalui makanan dan minuman yang tercemar oleh tangan,tinja penderita atau pembawa kuman lainnya. Serta Shegella yang bersumber dari manusia dan kera yang menyebabkan disentri basil yang bersifat sangat akut (Widaya 2004).
            Penyebab diare selanjutnya adalah virus yaitu Rotavirus, Norwalk dan norwalk like agen dan adenovirus. Rotavirus menyerang gastroenteritis bayi dan anak dengan diameter kira-kira 70 nm dengan struktur berbentuk dua kapsul dan tajam pada bagian luar. Infeksi rotavirus biasanya terdapat pada anak umur 6 bulan-2 tahun. Angka kejadian penyakit ini berkurang dengan bertambahnya umur bayi (Kapikan 1976). Sedangkan Norwalk agent lebih banyak terdapat pada kasus diare yang menyerang orang dewasa dibanding anak-anak (Thornhill 1977 dalam Suharyono 1986).
            Parasit juga bisa menjadi penyebab diare contohnya adalah cacing perut, Ascaris, Trichiuris, Strongyloides, Blastsistis huminis, protozoa, Entamoeba histolitica, Giardia labila, Belantudium coli dan Crypto. Parasit yang paling tinggi intensitasnya dalam menyebabkan diare adalah Candida dimana parasit ini sulit ditemukan pada tinja penderita sehingga harus diperiksa untuk menilai patogenitasnya dengan lebih baik. Selain beberapa macam penyabab diare yang telah disebutkan diatas, Diare juga dapat terjadi sebagai dari gangguan pada saluran pencernaan, seperti sindrom iritasi usus atau kolitis. Dalam kebanyakan kasus kontraksi GI kuat dan lebih lama dari biasanya memaksa isi usus melalui cepat dan menyebabkan gas, kembung, dan diare. Dalam beberapa kasus kontraksi GI lebih lemah dari biasanya, memperlambat perjalanan dan menyebabkan isi usus sembelit (Mahan and Stump 2008).
Penyebab Diare Pada Bayi dan Balita
            Pada balita dan bayi penderita diare akut dapat mengakibatkan kehilangan air dan elektrolit serta gangguan asam basa yang menyebabkan dehidrasi, asidosis metabolik dan hipokalemia. Gangguan sirkulasi darah, dapat berupa renjatan hipovolemik sebagai akibat diare dengan atau tanpa disertai muntah dan gangguan gizi yang terjadi akibat keluarnya cairan berlebihan karena diare dan muntah (Soegijanto 2002).
3.1.b Tanda dan Gejala
            Diare dapat menyebabkan hilangnya sejumlah besar air dan elektrolit, terutama natrium dan kalium dan sering disertai dengan asidosis metabolik. Dehidrasi dapat diklasifikasikan berdasarkan defisit air dan keseimbangan serum elektrolit. Setiap kehilangan berat badan yang melampaui 1% dalam sehari merupakan hilangnya air dari tubuh. Kehidupan bayi jarang dapat dipertahankan apabila defisit melampaui 15% (Soegijanto 2002).
            Gejala diare atau mencret adalah tinja yang encer dengan frekuensi empat kali atau lebih dalam sehari, yang kadang disertai: muntah, badan lesu atau lemah, panas, tidak nafsu makan, darah dan lendir dalam kotoran, rasa mual dan muntah-muntah dapat mendahului diare yang disebabkan oleh infeksi virus. Infeksi bisa secara tiba-tiba menyebabkan diare, muntah, tinja berdarah, demam, penurunan nafsu makan atau kelesuan. Selain itu, dapat pula mengalami sakit perut dan kejang perut, serta gejala- gejala lain seperti flu misalnya agak demam, nyeri otot atau kejang, dan sakit kepala. Gangguan bakteri dan parasit kadang-kadang menyebabkan tinja mengandung darah atau demam tinggi (Soegijanto 2002).
            Menurut Ngastisyah (2005) gejala diare sering ditemukan mula-mula pada balita dengan ciri-ciri cengeng, gelisah, suhu tubuh meningkat, nafsu makan berkurang, tinja disertai lendir atau darah, gejala muntah dapat timbul sebelum dan sesudah diare. Bila penderita banyak kehilangan cairan dan elektrolit, gekala dehidrasi mulai tampak yaitu berat badan menurun, turgoe berkurang, mata dan ubun-ubun besar menjadi cekung, selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak kering.
            Dehidrasi merupakan gejala yang segera terjadi akibat pengeluaran cairan tinja yang berulang-ulang. Dehidrasi terjadi akibat kehilangan air dan elektrolit yang melebihi pemasukannya (Suharyono 1986).
3.1 c.Ilustrasi dan Gambar
                    1. Kondisi tubuh balita penderita diare
                        2. Penyerangan bakteri penyebab diare pada usus
Sumber : Fouso02hislife.bogspot.com

3.    Penyerapan air oleh usus  
Sumber : wellesley.edu
4.    Faktor yang menyebabkan diare
patofisiologi-ge.bmp
Sumber: Fouso02hislife.bogspot.com

3.2 Patofisiologi dan Pengaruhnya Terhadap Sistem Organ
Penyebab awal diare ditandai dengan seringnya buang air besar berupa tinja yang cair biasanya melebihi 300 ml. Tinja juga disertai dengan hilangnya cairan dan elektrolit yang berlebihan terutama natrium dan kalium. Hal ini terjadi karena proses pengosongan lambung yang terlalu cepat melalui usus kecil, penurunan enzim pencernaan makanan, penurunan penyerapan cairan dan elektrolit, meningkatkan sekresi cairan pada saluran pencernaan, atau kerugian eksudatif (Mahan and Stump 2008).
Daya tahan tubuh bayi dan balita serta paparan mikroorganisme patogen merupakan dua faktor utama penyebab penyakit diare. Patofisiologi diare akut dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu non inflamasi dan inflamasi. Diare inflamasi ditandai dengan adanya demam, nyeri perut, feses yang berdarah dan berisi lekosit serta lesi inflamasi pada mukosa intestinal. Pada beberapa kasus terdapat hipoalbuminemia, hipoglobulinemia, protein losing enterophaty. Mekanisme inflamasi ini dapat bersamaan dengan malabsorbsi dan meningkatnya sekresi intestinal. Enteropatogen menyebabkan diare non inflamasi melalui produksi enterotoksin oleh beberapa bakteri, penghancuran vili usus halus oleh virus, perlekatan (adhesi) oleh parasit serta adhesi atau translokasi oleh bakteri. Diare inflamasi biasanya disebabkan oleh bakteri yang menginvasi usus halus secara langsung serta dengan memproduksi sitotoksin
( Mahan and Stump 2008).
Diare dikatakan akut jika berlangsung selama tujuh hari, sedangkan diare yang masih berlangsung terus selama 14 hari dikatakan sebagai diare kronik. Patogenesis diare akut yaitu masuknya jasad renik yang masih hidup ke dalam usus halus setelah melewati rintangan asam lambung. Jasad renik itu berkembang biak di dalam usus halus. Kemudian jasad renik mengeluarkan toksin. Akibat toksin tersebut terjadi hipersekresi yang selanjutnya akan menimbulkan diare (Mahan and Stump 2008).
Iritasi usus oleh suatu patogen mempengaruhi lapisan mukosa usus, sehingga terjadi peningkatan produk-produk sekretorik, termasuk mukus. Iritasi oleh mikroba juga mempengaruhi lapisan otot sehingga terjadi peningkatan motilitas. Peningkatan motilitas menyebabkan banyak air dan elektrolit terbuang karena waktu yang tersedia untuk penyerapan zat-zat tersebut di kolon menjadi berkurang sehingga menyebabkan terjadinya diare. Selain itu diare juga diperantarai oleh stimulasi usus dan saraf simpatis yang disebabkan oleh faktor psikologis.
Patogenesis diare kronik lebih kompleks dan faktor-faktor yang menimbulkannya ialah infeksi bakteri, parasit, malabsorbsi, malnutrisi dan lain-lain. Sebagai akibat diare akut maupun kronis akan terjadi kehilangan air dan elektronik (dehidrasi) yang mengakibatkan terjadinya gangguan keseimbangan asam basa (asidosis metabolik, hipokalemi, dan sebagainya), gangguan gizi akibat kelaparan (masukan makanan kurang, pengeluaran bertambah), hipoglikemia, dan gangguan sirkulasi darah.
Mekanisme terjadinya penyakit diare dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 1 Patogenesis diare akut karena infeksi usus

Rotavirus
E. Coli
Enterotosi
Genik
Vibrio
Cholera
E.Coli
Entero
invasif
Salmonella
Shigella
Tempat
Infeksi
Usus
halus
Usus halus
Usus
Halus
Usus
Halus
dan
kolon
Ileum dan
Kolon
Ileum
Distal dan kolon
Mekanisme
Patogenesisi
Merusak
Sel: radang
Produksi enterotoksin
Produksi
Enterotoksin
Penetrasi
epitel
Penetrasi
Epitel
Penetrasi
epitel

Tidak ada komentar:

Posting Komentar